Salah satunya dengan menciptakan aktivitas tidur yang menyenangkan.
Andi, tidur dong, Sayang. Masak enggak capek sih lompat-lompatan terus!" Sudah lebih dari dua jam, Siska meminta anaknya untuk tidur siang. Sama sekali tidak sukses. Andi memang sulit sekali jika diminta tidur. Ketimbang memejamkan mata di ranjang, ia lebih memilih berlompat-lompatan, tertawa-tawa, atau mengajak Siska bermain gulat-gulatan. Keadaan ini juga berlaku saat tidur malam. Siska sampai kehilangan akal.
Menurut Neneng Tati Sumiati, Psi., Andi adalah salah satu contoh anak aktif. Yang perlu disadari, aktif bukan berarti hiperaktif. Si aktif adalah anak normal karena perilakunya masih bisa diarahkan dan dapat dikontrol. Hanya saja secara psikomotorik, ia lebih aktif ketimbang anak-anak pada umumnya; lebih sering bergerak; berlari, melompat atau merangkak. Ia pun aktif dalam artian kreatif; sering bertanya, meminta perhatian, dan sebagainya. "Se-belum dia berhasil menyelesaikan pasel misalnya, anak aktif umumnya tidak akan menyerah. Hal ini terjadi karena anak aktif punya energi lebih banyak dan lebih tahan terhadap tantangan yang dihadapi," ujar psikolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nah, bedanya anak aktif dengan anak hiperaktif adalah anak aktif masih memiliki kemampuan untuk memberikan perhatian, fokus terhadap sesuatu yang diinginkan, punya tujuan saat melakukan sesuatu, dan dapat berkomunikasi dengan baik. "Bila anak aktif diberikan arahan, dia bisa melakukan segala sesuatu dengan baik," kata Neneng. Berbeda dengan anak hiperaktif, perilakunya cenderung tanpa arah karena tidak memiliki tujuan. Sikapnya pun ditunjuk-kan dengan tindakan destruktif, tidak bisa fokus dan mudah sekali beralih, dan sebagainya. "Hiperaktif termasuk anak dengan kebutuhan khusus dan perlu penanganan serius."
AGAR ANAK MAU TIDUR
Jadi, sekali lagi, anak aktif itu normal. Malah keaktifan mereka cenderung membawa manfaat. Misalnya, si aktif jadi tahu lebih banyak tentang berbagai hal karena lebih sering bereksplorasi ketimbang anak-anak lainnya. Berkat gerakan-gerakannya yang hampir tiada henti, juga membuat kemampuan motorik anak aktif lebih baik. "Menurut saya, lebih bagus anak banyak gerak karena dia akan mempelajari sesuatu lebih banyak. Sedangkan anak yang lebih sering diam, selain motoriknya kurang terlatih, juga banyak hal yang tidak dapat diketahui anak. Kepasifannya malah bisa mengganggu kreativitas anak dan inisiatifnya kelak," tandas Neneng.
Nah kalau masalahnya si aktif sulit diajak diam apalagi kalau diminta harus tidur, itu disebabkan mobilitas si aktif yang lebih tinggi ketimbang anak-anak lain. Keinginan si aktif untuk selalu beraktivitas inilah yang akhirnya membuatnya sulit untuk diminta tidur, terutama tidur siang. "Setiap anak memang memiliki kebutuhan tidur yang beragam, mungkin kebutuhan tidur anak aktif lebih sedikit sehingga kita sering menemukan mereka sulit untuk diajak tidur," ungkap Neneng.
Walau begitu, ia menandaskan anak batita harus memiliki istirahat yang cukup, terutama bagi mereka yang sudah bangun pagi-pagi sekali. "Istirahat terbaik kan tidur. Jadi batita memang sebaiknya tidur di siang hari."
Istirahat yang kurang akan berimbas pada kondisi fisik yang akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatannya secara umum. Apalagi, anak aktif sering tidak bisa mengontrol aktivitasnya sehingga mungkin saja dia sebenarnya sangat lelah namun tetap memaksakan diri untuk bermain.
Tetapi perlu diingat, jangan sekali-kali anak dipaksa untuk tidur dengan berbagai ancaman. Meskipun anak akhirnya mau melakukannya namun hal ini bukan karena kesadarannya melainkan keterpaksaan. Berikut beberapa hal yang lebih disarankan Neneng untuk membuat si kecil bersedia tidur:
1. Bikin jadwal kegiatan
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan membuat jadwal kegiatan anak dalam satu hari. Jadwal ini bisa dijadikan sebagai patokan kapan anak harus bangun, mandi, makan, tidur siang, hingga rutinitas malam hari. Awalnya bisa jadi jadwal tersebut sulit diterapkan. Namun setidaknya dengan jadwal yang sudah tersusun, si kecil jadi terbiasa melakukan aktivitas teratur. Jadi cobalah mematuhi jadwal agar ia terbiasa. Bila anak sudah bisa menyesuaikan diri, mudah bagi kita untuk memintanya tidur. Sebaliknya, tanpa jadwal anak akan terbiasa bebas melakukan apa saja dan kapan saja. "Mungkin saja nantinya bukan orang tua yang mengendalikan anak malah anak yang mengendalikan rutinitas hariannya, juga mengendalikan orang tuanya."
Jadi mumpung si batita masih mudah untuk diarahkan, buatlah jadwal kesehariannya sedini mungkin. Namun perlu diingat, orang tua perlu menyisipkan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di dalam rutinitas si kecil agar ia tidak merasa tertekan. Jadwal pun harus fleksibel dan tidak kaku. Misalnya, saat ada saudara berkunjung, si kecil bisa saja tak perlu mengikuti jadwal tidur siangnya agar dapat bermain dengan saudaranya.
2. Rancanglah aktivitas tidur yang menyenangkan
Umpamanya dengan meletakkan mainan favoritnya atau barang-barang yang disukai anak, seperti bantal, guling dan lainnya di atas tempat tidur. Cara lain, coba dongengkan cerita yang disukai anak. Pilihkan cerita yang bersifat mendidik agar ia bisa memetik hal positif dari dongeng yang diberikan. Mengatur tempo suara pun sangat baik dilakukan. Misalnya, di awal cerita suara kita terdengar cukup keras. Seiring dengan berjalannya dongeng, suara perlahan dikecilkan. Ketika anak terlihat sudah mau memejamkan mata. lirihkan suara dan buat seakan-akan suara menghilang secara perlahan.
Bila memang diperlukan atau anak memintanya, buatlah semacam "upacara" sebelum tidur. Misalnya, setiap mau tidur, ia mesti dibacakan cerita, mengucapkan selamat tidur bagi para bonekanya dan lainnya. Intinya, apa pun ritual yang diinginkan, cobalah dipenuhi, termasuk saat ia ingin melakukan permainan seperti gulat, smack down, dan sejenisnya sebelum tidur. "Namun jangan sampai keterusan hingga anak lupa tidur tetapi batasi dan minta anak untuk segera tidur," ujar Neneng.
3. Ciptakan suasana nyaman
Kamar yang nyaman dan menyenangkan bisa diciptakan dengan berbagai cara. Salah satunya menghias kamar dengan gambar-gambar dan mainan yang disukai. Suasana yang menye-nangkan akan mendorong anak untuk betah berada di dalam kamar. Namun, hindari hiasan-hiasan yang terlalu ramai karena akan membuatnya tergerak untuk memainkan. "Suasana tenang, lampu redup terkadang sangat diperlukan untuk membuat anak lebih mudah tidur," kata Neneng.
Tak hanya itu, perilaku orang tua terkadang dibutuhkan agar si kecil cepat terlelap. Seperti, berpura-pura memejamkan mata, tidak berbicara, tidak banyak bergerak, dan sebagainya. Dengan melihat orang tuanya "sudah tidur" bisa memicu anak untuk melakukan hal serupa. Jadi jangan malah membuat konsentrasi anak untuk tidur buyar, dengan menghidupkan teve misalnya. "Di teve kan banyak sekali hal menarik sehingga anak tertarik untuk melihatnya. Bila demikian, sulit baginya untuk memejamkan mata."
4. Alunkan musik penenang
Sebagai alternatif agar si kecil mau memejamkan mata, coba iringi tidurnya dengan suara-suara syahdu. Seperti dengan memperdengarkan alunan musik klasik, atau rekaman-rekaman suara yang mene-nangkan, seperti air terjun, ombak, dan lainnya. Dari hasil penelitian, suara-suara yang menenangkan akan membuat anak merasa lebih nyaman. Dalam kondisi ini anak akan lebih mudah untuk diajak tidur.
JIKA TIDAK BERHASIL
Namun perlu disadari juga, mungkin saja segala daya upaya orang tua untuk membuat si aktif tidur siang, tidak berhasil. Menurut Neneng, tak perlu ter-lalu mengkhawatirkan hal ini. Karena sebenarnya dengan hanya beraktivitas tenang di atas tempat tidur; dengan mendengar-kan dongeng atau memainkan bonekanya ini sama saja sudah membuatnya beristirahat. "Tidur siang memang sangat penting diterapkan pada anak. Namun bila pada kenyataannya orang tua malah mengalami kesulitan saat mengajak anak tidur di malam hari, boleh saja kita mengorbankan waktu tidur siangnya."
Nah, di malam harinya, ketika tenaganya terkuras, anak akan lebih mudah untuk tidur.
Irfan Hasuki. Foto: Iman/NAKITA
DiSiNi TeMpAt MeNcErItAkAn KeJaDiAn YaNg Uci ALaMi dAn TeMpAt BeRkELuH KeSaH TeNtAnG SeGaLa HaL JuGa SeBaGai TeMpAt BeRbAgi ArTiKel YaNg MuNgKiN BeRgUna BaGi PeMbAcA ...
Cari Blog Ini
Minggu, 12 Maret 2017
fidyah dan mengqadla' puasa
Selanjutnya, yang juga penting diketahui sekitar persoalan fidyah dan
mengqadla' puasa enadalah hal-hal berikut:
1. Dalam keadaan berpuasa seorang istri yang sedang hamil,
apabila
khawatir terhadap kesehatan diriya dan anak yang dikandungnya,
maka
diperbolehkan tidak berpuasa. Firman Allah : "Dan bagi orang yang
mampu menjalankan puasa (tapi tidak menjalankannya karena merasa
terlalu berat) maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan
orang
miskin." (Al-Baqarah: 184) Dan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan
oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda "Allah SWT melepaskan
kewajiban shalat (pada waktunya) bagi musafir, dan melepaskan
tanggungan puasa atas musafir, perempuan yang hamil, dan yang
menyusui." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah,
dan
Baihaqi).
2. Para ulama berbeda pendapat dalam apakah perempuan yang
hamil
dan yang menyusui diwajibkan mengqadla' dan membayar fidyah, atau
cukupkah dengan mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), atau
sebaliknya hanya membayar fidyah saja? (Silahkan Anda memilih
sendiri
mana yang paling cocok dengan keadaan Anda). Pendapat pertama
(Ibnu
Abbas dan Ibnu 'Umar): Jika keduanya (perempuan yang hamil dan
yang
menyusui) mengkhawatirkan kesehatan janin dan anaknya, maka hanya
diwajibkan membayar fidyah (tanpa mengqadla'). Kedua (Hanafi):
Sebaliknya, keduanya hanya diwajibkan mengqadla' puasa yang
diitinggalkan (tanpa membayar fidyah). Ketiga (Maliki): Orang yang
hamil hanya wajib mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), namun
orang yang menyusui diwajibkan membayar fidyah dan mengqadla.
Keempat
(Syafi'i dan Ahmad): keduanya hanya diwajibkan mengqadla' saja
jika
mengkhawatirkan kesehatan diri dan anaknya. Namun jika hanya
mengkhawatirkan kesehatan anaknya saja, maka wajib mengqadla' dan
membayar fidyah.
3. Mengenai mengakhirkan qadla' puasa Ramadlan hukumnya
boleh-boleh saja selama tidak sampai menjelang Ramadlan
berikutnya.
Namun begitu, jika tidak ada halangan (seperti bepergian, bekerja
keras, sakit, dan udzur-udzur lainnya), hendaknya secepatnya
mengqadla'.
Adapun seperti yang dikisahkan Sayidah Aisyah bahwa kebiasaan
istri-istri Rasulullah tidak segera mengqadla Ramadlan sampai
datang
bulan Sya'ban (HR. Muslim) itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan
landasan dalam persoalan penundaan qadla' puasa ini. Karena
kebiasaan
mereka (istri-istri Rasul) seperti itu hanya berdasar kekhawatiran
jika sewaktu-waktu Rasulullah membutuhkan (hajat biologis) mereka.
Karena mereka tidak tahu pasti kapan Rasul akan membutuhkan
mereka.
Mereka beri'tikad baik senantiasa menyiapkan diri kapan saja bila
Rasul membutuhkan. Dan itu mesti tidak dengan melakukan puasa.
Sehingga mereka baru melakukan qadla' puasa pada bulan Sya'ban,
saat
mana Rasul biasa berpuasa pada sebagian besar bulan Sya'ban
tersebut.
Dengan demikian, seorang istri yang sudah ditinggal mati suaminya
tidak perlu ikut-ikutan mengqadla' puasa sampai datangnya Sya'ban.
4. Jika belum mengqadla' sampai memasuki/menjelang Ramadlan
berikutnya, hendaknya segera mengqadla' pada hari-hari yang
tersisa
(dari bulan Sya'ban) dan melanjutkan sisanya seusai Ramadlan.
Apabila
penundaan qadla' dikarenakan adanya halangan seperti sakit atau
perjalanan yang berkepanjangan sampai datang bulan puasa
berikutnya,
para ulama sepakat bahwa qadla' bisa dilakukan seusai bulan puasa
berikutnya dan tidak diwajibkan membayar fidyah. Namun bila
penundaan
itu dilakukannya secara sengaja (tanpa ada halangan) maka
diwajibkan
membayar fidyah dan mengqadla'.
Mengenai cara pembayaran fidyah: fidyah boleh saja dibayar berupa uang
(yang senilai dengan satu mud, atau sekitar 3/4 (tiga per empat) kg
beras atau makanan pokok setempat). Dan boleh saja dibayarkan sekaligus
kepada satu orang (miskin).
ayat lengkap ttg Puasa: al-Baqarah 183 s/d 185
hadis: sesungguhnya Allah mencabut puasa dan separuh
shalat mufasir, dan mencabut puasa dari perempuan
hamil dan menyusui (HR Nasa'i & Ibnu Majah)
dari tafsir Al Azhar ada lagi;
Menurut riwayat Abd bin Humaid dan ad-Daruquthni, dari
Ibnu Abbas, bahwa beliau Ibnu Abbas, mengatakan kepada
ibu anak2nya yang sedang hamil dan menyusui anak yang
tidak sanggup pada waktu itu mengerjakan puasa, supaya
berbuka saja, lalu memberi makan kepada orang miskin
(fidyah) dengan tidak usah mengqadha.
Wanita yang sedang hamil dan/atau menyusui diperbolehkan tidak berpuasa
jika dikhawatirkan akan mengakibatkan terganggunya kesehatan, baik itu
akan berpengaruh pada anak yang dikandung maupun pada wanita yang sedang
mengandung. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dengan hasil konsultasi
dari pakar medis yang menangani kehamilan tersebut. Jika memang
--menurut perspektif medis-- berpuasa tidak berbahaya bagi kesehatan
wanita tersebut, maka sebaiknya tetap berpuasa. Akan tetapi jika puasa
dikhawatirkan membawa dampak yang membahayakan kehamilan maupun ibu yang
mengandung, maka diperbolehkan tidak berpuasa.
Mengenai fidyah dan qodlo puasa, berikut pendapat beberapa ulama terkait
wanita hamil atau menyusui : 1. Jika ia khawatir puasa dapat
membahayakan kesehatannya atau kesehatan anaknya, maka boleh tidak
berpuasa dan wajib meng-qadla di luar Ramadlan tanpa membayar fidyah.
2. Jika ia khawatir puasa dapat membahayakan kesehatan anaknya saja dan
tidak membahayakan dengan kesehatannya sendiri, maka boleh tidak
berpuasa dan wajib meng-qadla. Selain itu, sebaiknya juga membayar
fidyah. Ini adalah pendapat Imam Syafi'i. Sementara Imam Hanafi
berpendapat harus qadla dan tidak diperbolehkan membayar fidyah saja.
3. Dalil yang memperbolehkan tidak puasa bagi wanita hamil atau menyusui
diqiyaskan dengan orang yang sedang sakit dan musafir (orang yang dalam
perjalanan). Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan
bahwasanya Allah memperbolehkan kepada musafir untuk tidak berpuasa,
qashar dan jamak sholat. Begitu juga bagi orang yang sedang hamil dan
menyusui, diperbolehkan tidak berpuasa (H.R. Ahmad dan Ashab al-Sunan
dari Anas bin Malik). Justru sebaiknya wanita hamil atau menyusui tidak
berpuasa apabila puasa tersebut mengakibatkan terganggunya kesehatan ibu
yang sedang hamil dan janin yang dikandungnya.
4. Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Said bin Jubair (Sahabat) menyatakan
diperbolehkannya membayar fidyah saja tanpa harus meng-qadla. Karena
qadla itu sendiri dibatasi sampai sebelum datangnya Ramadlan berikutnya.
Jika sampai tahun berikutnya tetap tidak bisa meng-qadla puasa karena
menyusui, maka boleh (baca: cukup) membayar fidyah saja. Adapun
ketentuan fidyah dapat anda lihat dalam arsip jawaban kami dengan
mengunjungi http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/063.shtml
mengqadla' puasa enadalah hal-hal berikut:
1. Dalam keadaan berpuasa seorang istri yang sedang hamil,
apabila
khawatir terhadap kesehatan diriya dan anak yang dikandungnya,
maka
diperbolehkan tidak berpuasa. Firman Allah : "Dan bagi orang yang
mampu menjalankan puasa (tapi tidak menjalankannya karena merasa
terlalu berat) maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan
orang
miskin." (Al-Baqarah: 184) Dan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan
oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda "Allah SWT melepaskan
kewajiban shalat (pada waktunya) bagi musafir, dan melepaskan
tanggungan puasa atas musafir, perempuan yang hamil, dan yang
menyusui." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah,
dan
Baihaqi).
2. Para ulama berbeda pendapat dalam apakah perempuan yang
hamil
dan yang menyusui diwajibkan mengqadla' dan membayar fidyah, atau
cukupkah dengan mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), atau
sebaliknya hanya membayar fidyah saja? (Silahkan Anda memilih
sendiri
mana yang paling cocok dengan keadaan Anda). Pendapat pertama
(Ibnu
Abbas dan Ibnu 'Umar): Jika keduanya (perempuan yang hamil dan
yang
menyusui) mengkhawatirkan kesehatan janin dan anaknya, maka hanya
diwajibkan membayar fidyah (tanpa mengqadla'). Kedua (Hanafi):
Sebaliknya, keduanya hanya diwajibkan mengqadla' puasa yang
diitinggalkan (tanpa membayar fidyah). Ketiga (Maliki): Orang yang
hamil hanya wajib mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), namun
orang yang menyusui diwajibkan membayar fidyah dan mengqadla.
Keempat
(Syafi'i dan Ahmad): keduanya hanya diwajibkan mengqadla' saja
jika
mengkhawatirkan kesehatan diri dan anaknya. Namun jika hanya
mengkhawatirkan kesehatan anaknya saja, maka wajib mengqadla' dan
membayar fidyah.
3. Mengenai mengakhirkan qadla' puasa Ramadlan hukumnya
boleh-boleh saja selama tidak sampai menjelang Ramadlan
berikutnya.
Namun begitu, jika tidak ada halangan (seperti bepergian, bekerja
keras, sakit, dan udzur-udzur lainnya), hendaknya secepatnya
mengqadla'.
Adapun seperti yang dikisahkan Sayidah Aisyah bahwa kebiasaan
istri-istri Rasulullah tidak segera mengqadla Ramadlan sampai
datang
bulan Sya'ban (HR. Muslim) itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan
landasan dalam persoalan penundaan qadla' puasa ini. Karena
kebiasaan
mereka (istri-istri Rasul) seperti itu hanya berdasar kekhawatiran
jika sewaktu-waktu Rasulullah membutuhkan (hajat biologis) mereka.
Karena mereka tidak tahu pasti kapan Rasul akan membutuhkan
mereka.
Mereka beri'tikad baik senantiasa menyiapkan diri kapan saja bila
Rasul membutuhkan. Dan itu mesti tidak dengan melakukan puasa.
Sehingga mereka baru melakukan qadla' puasa pada bulan Sya'ban,
saat
mana Rasul biasa berpuasa pada sebagian besar bulan Sya'ban
tersebut.
Dengan demikian, seorang istri yang sudah ditinggal mati suaminya
tidak perlu ikut-ikutan mengqadla' puasa sampai datangnya Sya'ban.
4. Jika belum mengqadla' sampai memasuki/menjelang Ramadlan
berikutnya, hendaknya segera mengqadla' pada hari-hari yang
tersisa
(dari bulan Sya'ban) dan melanjutkan sisanya seusai Ramadlan.
Apabila
penundaan qadla' dikarenakan adanya halangan seperti sakit atau
perjalanan yang berkepanjangan sampai datang bulan puasa
berikutnya,
para ulama sepakat bahwa qadla' bisa dilakukan seusai bulan puasa
berikutnya dan tidak diwajibkan membayar fidyah. Namun bila
penundaan
itu dilakukannya secara sengaja (tanpa ada halangan) maka
diwajibkan
membayar fidyah dan mengqadla'.
Mengenai cara pembayaran fidyah: fidyah boleh saja dibayar berupa uang
(yang senilai dengan satu mud, atau sekitar 3/4 (tiga per empat) kg
beras atau makanan pokok setempat). Dan boleh saja dibayarkan sekaligus
kepada satu orang (miskin).
ayat lengkap ttg Puasa: al-Baqarah 183 s/d 185
hadis: sesungguhnya Allah mencabut puasa dan separuh
shalat mufasir, dan mencabut puasa dari perempuan
hamil dan menyusui (HR Nasa'i & Ibnu Majah)
dari tafsir Al Azhar ada lagi;
Menurut riwayat Abd bin Humaid dan ad-Daruquthni, dari
Ibnu Abbas, bahwa beliau Ibnu Abbas, mengatakan kepada
ibu anak2nya yang sedang hamil dan menyusui anak yang
tidak sanggup pada waktu itu mengerjakan puasa, supaya
berbuka saja, lalu memberi makan kepada orang miskin
(fidyah) dengan tidak usah mengqadha.
Wanita yang sedang hamil dan/atau menyusui diperbolehkan tidak berpuasa
jika dikhawatirkan akan mengakibatkan terganggunya kesehatan, baik itu
akan berpengaruh pada anak yang dikandung maupun pada wanita yang sedang
mengandung. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dengan hasil konsultasi
dari pakar medis yang menangani kehamilan tersebut. Jika memang
--menurut perspektif medis-- berpuasa tidak berbahaya bagi kesehatan
wanita tersebut, maka sebaiknya tetap berpuasa. Akan tetapi jika puasa
dikhawatirkan membawa dampak yang membahayakan kehamilan maupun ibu yang
mengandung, maka diperbolehkan tidak berpuasa.
Mengenai fidyah dan qodlo puasa, berikut pendapat beberapa ulama terkait
wanita hamil atau menyusui : 1. Jika ia khawatir puasa dapat
membahayakan kesehatannya atau kesehatan anaknya, maka boleh tidak
berpuasa dan wajib meng-qadla di luar Ramadlan tanpa membayar fidyah.
2. Jika ia khawatir puasa dapat membahayakan kesehatan anaknya saja dan
tidak membahayakan dengan kesehatannya sendiri, maka boleh tidak
berpuasa dan wajib meng-qadla. Selain itu, sebaiknya juga membayar
fidyah. Ini adalah pendapat Imam Syafi'i. Sementara Imam Hanafi
berpendapat harus qadla dan tidak diperbolehkan membayar fidyah saja.
3. Dalil yang memperbolehkan tidak puasa bagi wanita hamil atau menyusui
diqiyaskan dengan orang yang sedang sakit dan musafir (orang yang dalam
perjalanan). Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan
bahwasanya Allah memperbolehkan kepada musafir untuk tidak berpuasa,
qashar dan jamak sholat. Begitu juga bagi orang yang sedang hamil dan
menyusui, diperbolehkan tidak berpuasa (H.R. Ahmad dan Ashab al-Sunan
dari Anas bin Malik). Justru sebaiknya wanita hamil atau menyusui tidak
berpuasa apabila puasa tersebut mengakibatkan terganggunya kesehatan ibu
yang sedang hamil dan janin yang dikandungnya.
4. Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Said bin Jubair (Sahabat) menyatakan
diperbolehkannya membayar fidyah saja tanpa harus meng-qadla. Karena
qadla itu sendiri dibatasi sampai sebelum datangnya Ramadlan berikutnya.
Jika sampai tahun berikutnya tetap tidak bisa meng-qadla puasa karena
menyusui, maka boleh (baca: cukup) membayar fidyah saja. Adapun
ketentuan fidyah dapat anda lihat dalam arsip jawaban kami dengan
mengunjungi http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/063.shtml
Ridho dan Rifa (cerita)
Oleh: Wuland
Sumber: http://www.kotasantri.com
Masih di sudut gang seperti biasa, menunggu dan terus
menunggu, entah sudah berapa jam gadis kecil dengan
baju lusuhnya duduk di sudut gang sempit itu. Sesekali
dia mengusap dahinya yang dibasahi peluh, dengan mata
beningnya dia terus menatap ke arah jalan raya.
Ini sudah lewat dari waktu anak-anak SD pulang
sekolah, tapi suasana jalanan tak pernah lengang
sebelum malam menjemput. Gadis kecil itu tiba-tiba
berdiri dan berlari menyongsong seseorang yang
kelihatannya sedari tadi ditunggunya.
"Baaaannggg!!!" sambut gadis kecil tadi riang, dengan
langkah-langkah pendeknya dia berlari ke arah kakaknya
yang berumur 10 tahun, 4 tahun lebih tua dari gadis
kecil tadi.
"Fa, ayo kita nyari tempat buat makan, Ab ang punya
nasi bungkus nih, kamu pasti sudah lapar sekali nunggu
dari tadi di sini," Ridho langsung meraih pergelangan
tangan yang terasa begitu kurus di genggaman telapak
tangannya.
Dengan wajahnya yang makin sumringah Rifa berlari-lari
kecil untuk mengimbangi langkah-langkah cepat
kakaknya. Tak ada yang memperhatikan tingkah kedua
anak kecil itu, semua orang sibuk dengan urusannya
sendiri-sendiri, sibuk dengan dunianya masing-masing.
Dua anak malang yang harus menjalani masa kecilnya
dengan memeras keringat sendiri, mencari sesuap nasi
untuk menyambung hidup mereka, kehidupan yang serba
susah dalam kerasnya kota besar itu membuat mereka
lebih berpikir dewasa daripada anak seumuran mereka.
Seperti biasa mereka langsung menuju ke mushola di
kawasan kumuh itu untuk menghabiskan makanan yang baru
didapatkan Ridho, entah apa yang ada di pikiran mereka
untuk kehidupan selanjutnya, bagi mereka yang penting
adalah saat ini mereka bisa makan berarti mereka masih
bisa meneruskan nafas sampai entah kapan.
Selesai makan Ridho merebahkan tubuhnya di teras
mushola, Rifa beranjak membuang bungkus makanan dan
mencuci tangannya. Kemudian kembali ke tempat abangnya
ikut-ikutan merebahkan diri di teras.
"Abang, Rifa tadi liat anak-anak yang pulang sekolah
pake baju sama semua, bagus deh Bang bajunya," Rifa
mulai berceloteh, karena sejak tadi pagi ditinggal
sendirian di sudut gang dekat SD Harapan Bunda.
"Itu namanya baju seragam," sahut Ridho sambil tetap
memejamkan mata.
"Terus, mereka juga bawa tas lucu-lucu deh Bang, Rifa
juga pingin punya tas yang lucu."
"Kamu punya tas buat apa? Kamu kan gak sekolah, nanti
saja kalau Abang punya uang kamu bisa sekolah, trus
Abang beliin tas," hibur Ridho, dia sendiri juga gak
tau kenapa mengatakan itu pada adiknya, untuk membeli
makan setiap harinya saja sudah susah, bisa makan
sud ah untung-untungan, gimana bisa beli tas apalagi
menyekolahkan Rifa.
"Tasnya yang lucu Bang yaa. Yang ada gambar bonekanya,
yang warnanya merah muda ya Bang," angan-angan Rifa
sudah kemana-mana membayangkan dia bisa bermain dengan
anak-anak SD yang lain, memakai seragam seperti
mereka, makan es krim yang suka mangkal di depan
sekolah, Rifa senyum-senyum sendiri membayangkan
abangnya pasti memenuhi janjinya.
Semilir angin membuai Ridho yang sedang kecapekan dan
membuatnya tertidur dalam waktu yang tidak lama. Tak
seberapa lama khayalan Rifa juga mulai menghilang
tergantikan dengan kegelapan yang membawanya ke alam
mimpi, dalam mimpinya tak jauh beda dengan
khayalannya. Berlari-lari di halaman sekolah dengan
seragam barunya dan teman-teman sekolahnya.
***
Setiap malam Ridho pergi ke warung-warung tenda untuk
menawarkan jasa semirnya, kalau malam biasanya Rifa
ikut dengan abangnya, katanya sih takut kalau harus
nunggu abangnya sendirian. Lagian kalau malam Ridho
tidurnya juga tidak pernah tetap, di mana ada tempat
yang bisa mereka pakai untuk tidur ya di situlah
mereka melepas lelah malam itu.
Ridho masih sibuk menawarkan jasanya dari orang ke
orang, tapi tak seorangpun yang mau menyemirkan sepatu
atau sandalnya. Mungkin ada beberapa orang yang merasa
iba dan memberikan uang receh tanpa minta disemir
sepatunya.
"Bang.... Rifa dikasih duit seribu sama ibu yang itu,"
kata Rifa senang sambil menyerahkan uangnya ke Ridho.
"Kamu simpan aja, itu kan duit kamu Fa, dikumpulin aja
biar bisa buat beli tas," jawab Ridho yang membuat
Rifa langsung memasukkan uang itu ke saku roknya.
Waktu beranjak semakin malam, seiring dengan lelah dan
kantuk yang semakin terasa, akhirnya mereka memutuskan
berhenti di teras toko yang baru saja ditutup.
"Malam ini cuman dapat dikit..., tapi cukuplah kalau
buat sarapan besok ," ucap Ridho lirih sambil
menghitung recehan yang berhasil dikantonginya malam
ini.
"Kalau gak cukup pake duitnya Rifa aja Bang," timpal
Rifa yang mulai menggelar koran untuk alas tidur
mereka.
"Gak usah, uang Abang masih cukup kok, udah sana kamu
tidur, besok harus bangun pagi kalau tidak ingin
diomeli sama yang punya toko."
Rifa segera merebahkan tubuhnya setelah selesai
menggelarkan koran untuk Ridho.
***
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya Rifa menunggu
abangnya di dekat SD Harapan Bunda, berdiri di luar
pagar dan memandangi anak-anak yang lagi asyik bermain
dan berlari-larian sudah menjadi rutinitasnya setiap
pagi sebelum akhirnya harus menunggu abangnya di sudut
gang karena anak-anak SD itu sudah pada pulang.
Dan seperti hari-hari sebelumnya juga Rifa menunggu
kakaknya di sudut gang kecil, sambil duduk di sebuah
bangku yang mulai reyot termakan panas dan hujan. Jam
satu sudah lewat, biasanya Ridho sudah datang, kalau
belum datang berarti duit untuk beli makan masih
kurang.
Paling telat biasanya Rifa menunggu sampai jam tiga,
tapi peduli apa Rifa dengan jam, toh dia tak mengerti
sama sekali dengan aturan jam. Yang dia tau sekarang
sudah mulai sore dan abangnya belum juga menampakkan
batang hidungnya. Rifa mulai gelisah karena lapar dan
khawatir, gadis kecil yang sudah hidup berdua saja
dengan kakaknya sejak umur 4 tahun itu tak beranjak
sama sekali dari sudut gang itu, karena dia tau kalau
abangnya pasti akan bingung mencarinya jika dia tidak
ada di sana ketika abangnya kembali.
Sore mulai hilang tergantikan merahnya senja, dan
senjapun sudah turun tahta tergantinya gelapnya malam.
Kini, Rifa hanya bisa menangis diantara bingung dan
laparnya.
***
Pagi itu ketika Ridho meninggalkan Rifa di depan SD
Harapan Bunda, tak terbersit sama sekali di pikirannya
jika nanti siang dia sud ah tidak bisa lagi bertemu
dengan adik semata wayangnya. Dengan adik yang sudah
dijaganya sejak 2 tahun yang lalu, Rifa-lah yang
membuatnya bertahan untuk menjalani hidup yang tidak
bersahabat ini.
Dan siang ini ketika Ridho hendak membeli makan di
warung dekat ruko yang sudah menjadi langganannya
karena selain murah juga sang empunya sering
memberikan makanan lebih karena tau kondisi Ridho. Di
lihatnya dari arah supermarket gerombolan petugas
keamanan dan beberapa warga sedang berlari mengejar
beberapa anak belasan tahun, mungkin ada yang seumur
dia ke arah Ridho hendak membeli makan.
Ridho hanya terpaku di tempat memandangi gerombolan
itu yang kian mendekat, tiba-tiba seseorang
menyergapnya dari belakang dan menyeretnya.
Ridho baru sadar ketika banyak orang yang berteriak
"Dasar maling kurang ajar!!!", "Masih kecil-kecil
sudah mencuri!!", "Dasar pengutil cilik!!", "Sudah
hajar saja!! Hajar!!".
"Saya buk an pencuri Paaaakkk!!!! .....Saya bukan
pencuriiii!!!!," teriak Ridho sekuat tenaga, tapi
cengkeraman lelaki itu semakin menguat.
Beberapa warga yang menyaksikan tragedi itu masih
mengeluarkan sumpah serapahnya, bahkan ada yang
mencoba memukulnya atau melemparinya dengan batu atau
apa saja yang bisa dilempar ke arah anak-anak yang
tertangkap itu.
"Saya tidak ngutil!! Lepaaaaaaasssssssss!!! Saya mau
beli makan buat adik saya, lepaskan saya Pak!!
Lepaaaaaaaaaaassssss!!!!!!" Ridho berontak makin
menjadi-jadi. Petugas itu semakin berang dengan
tingkah Ridho, dan menendangnya agar diam.
***
Dan malam itu, ketika Ridho tak juga menemui Rifa,
akhirnya Rifa memutuskan untuk pergi ke warung tenda
yang biasanya dikunjungi Ridho dan Rifa setiap malam.
Masih dengan sesenggukan Rifa menyusuri jalanan yang
diterangi lampu jalanan dan lampu kendaraan. Setelah
lelah mencari-cari di setiap warung tenda dan tidak
mendapatkan hasil, tangis Rifa makin menjadi, dan
terduduk di trotoar.
Dia tak tau lagi apa yang harus dilakukannya, sekarang
rasa lapar itu benar-benar telah melanda Rifa lagi,
tak pernah terpikir oleh Rifa untuk membeli makanan
dengan duitnya sendiri jika tidak ada abangnya. Masih
sendiri, dan menangis di tepi jalan itu.
Sumber: http://www.kotasantri.com
Masih di sudut gang seperti biasa, menunggu dan terus
menunggu, entah sudah berapa jam gadis kecil dengan
baju lusuhnya duduk di sudut gang sempit itu. Sesekali
dia mengusap dahinya yang dibasahi peluh, dengan mata
beningnya dia terus menatap ke arah jalan raya.
Ini sudah lewat dari waktu anak-anak SD pulang
sekolah, tapi suasana jalanan tak pernah lengang
sebelum malam menjemput. Gadis kecil itu tiba-tiba
berdiri dan berlari menyongsong seseorang yang
kelihatannya sedari tadi ditunggunya.
"Baaaannggg!!!" sambut gadis kecil tadi riang, dengan
langkah-langkah pendeknya dia berlari ke arah kakaknya
yang berumur 10 tahun, 4 tahun lebih tua dari gadis
kecil tadi.
"Fa, ayo kita nyari tempat buat makan, Ab ang punya
nasi bungkus nih, kamu pasti sudah lapar sekali nunggu
dari tadi di sini," Ridho langsung meraih pergelangan
tangan yang terasa begitu kurus di genggaman telapak
tangannya.
Dengan wajahnya yang makin sumringah Rifa berlari-lari
kecil untuk mengimbangi langkah-langkah cepat
kakaknya. Tak ada yang memperhatikan tingkah kedua
anak kecil itu, semua orang sibuk dengan urusannya
sendiri-sendiri, sibuk dengan dunianya masing-masing.
Dua anak malang yang harus menjalani masa kecilnya
dengan memeras keringat sendiri, mencari sesuap nasi
untuk menyambung hidup mereka, kehidupan yang serba
susah dalam kerasnya kota besar itu membuat mereka
lebih berpikir dewasa daripada anak seumuran mereka.
Seperti biasa mereka langsung menuju ke mushola di
kawasan kumuh itu untuk menghabiskan makanan yang baru
didapatkan Ridho, entah apa yang ada di pikiran mereka
untuk kehidupan selanjutnya, bagi mereka yang penting
adalah saat ini mereka bisa makan berarti mereka masih
bisa meneruskan nafas sampai entah kapan.
Selesai makan Ridho merebahkan tubuhnya di teras
mushola, Rifa beranjak membuang bungkus makanan dan
mencuci tangannya. Kemudian kembali ke tempat abangnya
ikut-ikutan merebahkan diri di teras.
"Abang, Rifa tadi liat anak-anak yang pulang sekolah
pake baju sama semua, bagus deh Bang bajunya," Rifa
mulai berceloteh, karena sejak tadi pagi ditinggal
sendirian di sudut gang dekat SD Harapan Bunda.
"Itu namanya baju seragam," sahut Ridho sambil tetap
memejamkan mata.
"Terus, mereka juga bawa tas lucu-lucu deh Bang, Rifa
juga pingin punya tas yang lucu."
"Kamu punya tas buat apa? Kamu kan gak sekolah, nanti
saja kalau Abang punya uang kamu bisa sekolah, trus
Abang beliin tas," hibur Ridho, dia sendiri juga gak
tau kenapa mengatakan itu pada adiknya, untuk membeli
makan setiap harinya saja sudah susah, bisa makan
sud ah untung-untungan, gimana bisa beli tas apalagi
menyekolahkan Rifa.
"Tasnya yang lucu Bang yaa. Yang ada gambar bonekanya,
yang warnanya merah muda ya Bang," angan-angan Rifa
sudah kemana-mana membayangkan dia bisa bermain dengan
anak-anak SD yang lain, memakai seragam seperti
mereka, makan es krim yang suka mangkal di depan
sekolah, Rifa senyum-senyum sendiri membayangkan
abangnya pasti memenuhi janjinya.
Semilir angin membuai Ridho yang sedang kecapekan dan
membuatnya tertidur dalam waktu yang tidak lama. Tak
seberapa lama khayalan Rifa juga mulai menghilang
tergantikan dengan kegelapan yang membawanya ke alam
mimpi, dalam mimpinya tak jauh beda dengan
khayalannya. Berlari-lari di halaman sekolah dengan
seragam barunya dan teman-teman sekolahnya.
***
Setiap malam Ridho pergi ke warung-warung tenda untuk
menawarkan jasa semirnya, kalau malam biasanya Rifa
ikut dengan abangnya, katanya sih takut kalau harus
nunggu abangnya sendirian. Lagian kalau malam Ridho
tidurnya juga tidak pernah tetap, di mana ada tempat
yang bisa mereka pakai untuk tidur ya di situlah
mereka melepas lelah malam itu.
Ridho masih sibuk menawarkan jasanya dari orang ke
orang, tapi tak seorangpun yang mau menyemirkan sepatu
atau sandalnya. Mungkin ada beberapa orang yang merasa
iba dan memberikan uang receh tanpa minta disemir
sepatunya.
"Bang.... Rifa dikasih duit seribu sama ibu yang itu,"
kata Rifa senang sambil menyerahkan uangnya ke Ridho.
"Kamu simpan aja, itu kan duit kamu Fa, dikumpulin aja
biar bisa buat beli tas," jawab Ridho yang membuat
Rifa langsung memasukkan uang itu ke saku roknya.
Waktu beranjak semakin malam, seiring dengan lelah dan
kantuk yang semakin terasa, akhirnya mereka memutuskan
berhenti di teras toko yang baru saja ditutup.
"Malam ini cuman dapat dikit..., tapi cukuplah kalau
buat sarapan besok ," ucap Ridho lirih sambil
menghitung recehan yang berhasil dikantonginya malam
ini.
"Kalau gak cukup pake duitnya Rifa aja Bang," timpal
Rifa yang mulai menggelar koran untuk alas tidur
mereka.
"Gak usah, uang Abang masih cukup kok, udah sana kamu
tidur, besok harus bangun pagi kalau tidak ingin
diomeli sama yang punya toko."
Rifa segera merebahkan tubuhnya setelah selesai
menggelarkan koran untuk Ridho.
***
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya Rifa menunggu
abangnya di dekat SD Harapan Bunda, berdiri di luar
pagar dan memandangi anak-anak yang lagi asyik bermain
dan berlari-larian sudah menjadi rutinitasnya setiap
pagi sebelum akhirnya harus menunggu abangnya di sudut
gang karena anak-anak SD itu sudah pada pulang.
Dan seperti hari-hari sebelumnya juga Rifa menunggu
kakaknya di sudut gang kecil, sambil duduk di sebuah
bangku yang mulai reyot termakan panas dan hujan. Jam
satu sudah lewat, biasanya Ridho sudah datang, kalau
belum datang berarti duit untuk beli makan masih
kurang.
Paling telat biasanya Rifa menunggu sampai jam tiga,
tapi peduli apa Rifa dengan jam, toh dia tak mengerti
sama sekali dengan aturan jam. Yang dia tau sekarang
sudah mulai sore dan abangnya belum juga menampakkan
batang hidungnya. Rifa mulai gelisah karena lapar dan
khawatir, gadis kecil yang sudah hidup berdua saja
dengan kakaknya sejak umur 4 tahun itu tak beranjak
sama sekali dari sudut gang itu, karena dia tau kalau
abangnya pasti akan bingung mencarinya jika dia tidak
ada di sana ketika abangnya kembali.
Sore mulai hilang tergantikan merahnya senja, dan
senjapun sudah turun tahta tergantinya gelapnya malam.
Kini, Rifa hanya bisa menangis diantara bingung dan
laparnya.
***
Pagi itu ketika Ridho meninggalkan Rifa di depan SD
Harapan Bunda, tak terbersit sama sekali di pikirannya
jika nanti siang dia sud ah tidak bisa lagi bertemu
dengan adik semata wayangnya. Dengan adik yang sudah
dijaganya sejak 2 tahun yang lalu, Rifa-lah yang
membuatnya bertahan untuk menjalani hidup yang tidak
bersahabat ini.
Dan siang ini ketika Ridho hendak membeli makan di
warung dekat ruko yang sudah menjadi langganannya
karena selain murah juga sang empunya sering
memberikan makanan lebih karena tau kondisi Ridho. Di
lihatnya dari arah supermarket gerombolan petugas
keamanan dan beberapa warga sedang berlari mengejar
beberapa anak belasan tahun, mungkin ada yang seumur
dia ke arah Ridho hendak membeli makan.
Ridho hanya terpaku di tempat memandangi gerombolan
itu yang kian mendekat, tiba-tiba seseorang
menyergapnya dari belakang dan menyeretnya.
Ridho baru sadar ketika banyak orang yang berteriak
"Dasar maling kurang ajar!!!", "Masih kecil-kecil
sudah mencuri!!", "Dasar pengutil cilik!!", "Sudah
hajar saja!! Hajar!!".
"Saya buk an pencuri Paaaakkk!!!! .....Saya bukan
pencuriiii!!!!," teriak Ridho sekuat tenaga, tapi
cengkeraman lelaki itu semakin menguat.
Beberapa warga yang menyaksikan tragedi itu masih
mengeluarkan sumpah serapahnya, bahkan ada yang
mencoba memukulnya atau melemparinya dengan batu atau
apa saja yang bisa dilempar ke arah anak-anak yang
tertangkap itu.
"Saya tidak ngutil!! Lepaaaaaaasssssssss!!! Saya mau
beli makan buat adik saya, lepaskan saya Pak!!
Lepaaaaaaaaaaassssss!!!!!!" Ridho berontak makin
menjadi-jadi. Petugas itu semakin berang dengan
tingkah Ridho, dan menendangnya agar diam.
***
Dan malam itu, ketika Ridho tak juga menemui Rifa,
akhirnya Rifa memutuskan untuk pergi ke warung tenda
yang biasanya dikunjungi Ridho dan Rifa setiap malam.
Masih dengan sesenggukan Rifa menyusuri jalanan yang
diterangi lampu jalanan dan lampu kendaraan. Setelah
lelah mencari-cari di setiap warung tenda dan tidak
mendapatkan hasil, tangis Rifa makin menjadi, dan
terduduk di trotoar.
Dia tak tau lagi apa yang harus dilakukannya, sekarang
rasa lapar itu benar-benar telah melanda Rifa lagi,
tak pernah terpikir oleh Rifa untuk membeli makanan
dengan duitnya sendiri jika tidak ada abangnya. Masih
sendiri, dan menangis di tepi jalan itu.
Minggu, 05 Maret 2017
RAHASIA SUJUD KETIKA SHOLAT
AL-Jannah. Da'wah *Gabuswetan*
Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi, yaitu:
dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung jari kaki.
Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi, yaitu:
dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung jari kaki.
Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah dan memintasegala macam permintaan kepada Allah.
Sekaligus, mengikis sifatsombong, riya', takabur, dll.
Dr Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward'sUniversity, telah menjadi mu'allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.
Dalam kajiannya ditemukan bahwa
ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yg tidak dimasuki darah, dan urat ini baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.
Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja.
Yaitu, pada waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan Islam (shubuh, dzuhur, 'ashar, maghrib, Isya').
SubhanAllah...
Jadi, siapa yang tidak sholat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal.
Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yg tidak bersholat saat ini.
Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia,
maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.
Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah, supaya kita sujud berlama-lama pada raka'at terakhir.
Manfaat sujud berlama-lama ini,untuk menolak pening, dan migrain, menyegarkan otak,menajamkan akal pikiran (peka), melegakan sistem pernapasan, membetulkan pundi peranakan yang jatuh, memperbaiki kedudukan bayi sungsang, dll.
Dan yang menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk saraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang bersujud...
SUBHANALLAH..........
Sekaligus, mengikis sifatsombong, riya', takabur, dll.
Dr Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward'sUniversity, telah menjadi mu'allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.
Dalam kajiannya ditemukan bahwa
ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yg tidak dimasuki darah, dan urat ini baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.
Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja.
Yaitu, pada waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan Islam (shubuh, dzuhur, 'ashar, maghrib, Isya').
SubhanAllah...
Jadi, siapa yang tidak sholat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal.
Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yg tidak bersholat saat ini.
Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia,
maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.
Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah, supaya kita sujud berlama-lama pada raka'at terakhir.
Manfaat sujud berlama-lama ini,untuk menolak pening, dan migrain, menyegarkan otak,menajamkan akal pikiran (peka), melegakan sistem pernapasan, membetulkan pundi peranakan yang jatuh, memperbaiki kedudukan bayi sungsang, dll.
Dan yang menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk saraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang bersujud...
SUBHANALLAH..........
KEAJAIBAN TEPUNG TERIGU YANG TIDAK PERNAH TERPIKIRKAN SEMUA ORANG...
Pada suatu hari saya memasak jagung dan menusukkan garpu ke jagung yang sedang direbus air mendidih itu, untuk melihat apakah sudah matang. Tetapi garpu itu meleset dan malah tangan saya yang masuk ke air mendidih itu .......
Kebetulan
Teman saya, seorang veteran tentara Vietnam masuk kedalam rumah ketika saya sedang menjerit kesakitan. Dia bertanya, apakah saya punya tepung terigu. Saya ambil sekantung terigu dan teman saya langsung memasukkan tangan saya yang kena air panas itu ke kantung terigu itu....
Dia minta saya membiarkan tangan itu terendam tepung terigu selama 10 menit.
Dan dia bercerita bahwa di Vietnam ada orang yang terbakar. Orang2 lain panik dan tanpa sengaja ada seorang melemparkan sekarung terigu ke tubuh orang itu untuk tujuan memadamkan api ditubuhnya.....
Ternyata bukan saja apinya padam, tapi tubuh orang itu sama sekali tidak melepuh kena api. Maka saya pun merendam tangan saya selama 10 menit di kantung terigu itu. Ketika saya tarik keluar tangan itu, kulitnya sama sekali tidak ada yang merah atau melepuh, dan TIDAK SAKIT.
Sekarang saya selalu menyediakan sekantung tepung terigu di lemari es dan tiap kali tangan saya terkena panas, saya masukkan ke kantung terigu itu. Kulit saya *tidak pernah satu kalipun menjadi merah, hitam ataupun melepuh*. Tepung dingin lebih enak/nyaman rasanya daripada tepung hangat (suhu kamar).Sungguh suatu Mujizat/KEAJAIBAN Simpanlah selalu sekantung tepung terigu di lemari es. Suatu saat anda akan bersyukur bahwa ada terigu di sana. Ketika lidah saya terbakar minuman panas, saya bubuhi tepung terigu dan dibiarkan selama 10 menit. Ternyata sakitnya hilang dan tidak ada bekas terbakar.
*Cobalah*.Janganlah siram bagian tubuh yang terbakar dengan Air Dingin dulu. Tapi Langsung masukkan dan rendam di kantung tepung terigu selama 10 menit, dan saksikanlah/rasakanlah suatu keajaiban.
*JANGAN LUPA BERBAGI*
Langganan:
Postingan (Atom)